Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Saturday, 20 April 2013

Keunikan Matematika


Jumpa lagi sama saya, Sobat. Kali ini saya akan posting tentang keunikan matematika. Dalam kamus seorang yang masih sekolah, kebanyakan MATEMATIKA dalah suatu momok yang paling mengerikan dalam hidup. Namun, sebaliknya, MATEMATIKA justru mempunyai keunikan yang luar biasa. Check this out artikelnya.

Monday, 14 January 2013

Khasiat Basmalah (Penabur Aroma Cinta)



Bila pilihan hati sudah dijatuhkan dan cintapun sudah bulat serta hendak menyuntingnya, apalah yang mampu menghalanginya. Jangankan badai dan gelombang, semua akan dilawan dan diterjang. Hanya satu tekad yang menggumpal dalam dadanya. “Si doi harus kena.”

Namun, tidak sebegitu mudah persoalan Anda boleh jatuh hati pada Si Dia, tapi apakah Si Dia sudi menanggapinya?

Sunday, 13 January 2013

Renungan Hati



Berapa lamakah kita bisa bernafas? Pernahkah kita bersyukur atas nafas kita? Bayangkan saja orang yang terbaring di rumah sakit yang membutuhkan oksigen setiap detiknya. 1 tabung oksigen harga berapa? Dan dapat digunakan untuk berapa hari? Sedangkan kita yang dapat berjalan kesana kemari, bernafas bertahun-tahun secara GRATIS, tak pernah ingat kepada siapa kita seharusnya berterimakasih

Monday, 12 November 2012

Suara Malaikat

Ayat ini digunakan untuk menghadapi masalah di luar. Misalnya dirampok, dll.
 قُلْ يَتَفّكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتَ اَّلذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُــمَّ اِلى رَبّـِكُمْ تُـرْجَعُوْنَ

“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhan-mulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah:11)

Motivasi


فَاكـِـــرُ صَابِرُ اَفْضَلُ مِنْ غَنِيٍ شَاكِــرٍ
“Orang fakir yang bersabar lebih utama dari orang kaya yang bersyukur.”

فَاكـِـــرُ شَاكِــرْ اَفْضَلُ مِنْ كُلٍّ
“Orang fakir yang bersyukur lebih utama dari dunia seisinya.” 

Saturday, 10 November 2012

Tangis Wanita

"Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, aku wanita". "Aku tak mengerti," kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas? Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.